Literasi Sains

Literasi Sains

Literasi sains dipilih sebagai tujuan utama pembelajaran IPA karena dianggap bisa digunakan untuk mempersiapkan generasi saat ini untuk menghadapi saat nanti. Secara umum, berdasarkan analisis terhadap data PISA tahun 2000, 2003, dan 2006 diperoleh informasi bahwa faktor yang secara konsisten signifikan mempengaruhi kemampuan sains adalah: 1) kemampuan membaca, 2) kemampuan matematika dan 3) fasilitas pendidikan (Hadi & Mulyatiningsih, 2009).

Beberapa pengertian para ahli mengenai arti literasi antara lain sebagai berikut;

Goody (1999)

Menurutnya, pengertian literasi dalam arti sempit adalah kemampuan untuk membaca dan menulis yang dilakukan seseorang dalam menggambar fenomana sosial secara ilmiah. Bisa dalam fungsinya dengan mencantumkan sumber pusat yang relevan dalam sebuah penelitian.

Alberta (2009) Menurutnya, arti literasi bukan hanya sekedar kemampuan untuk membaca dan menulis yang dapat menambah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dapat membuat seseorang memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu memecahkan masalah dalam berbagai konteks, mampu berkomunikasi secara efektif dan mampu mengembangkan potensi dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Cordon (2003)

Mengungkapkan, definisi literasi adalah sumber ilmu pengetahuan yang menyenangkan yang mampu membangun imajinasi ilmuan lainnya untuk menjelajah dunia dan ilmu pengetahuan secara luas berdasarkan pada refrensi yang memberi arti.

Wells (1987)

Menyatakan terdapat empat tingkatan dalam literasi yaitu: literasi performatif (literacy performative), literasi fungsional (literacy functional). Literasi informasi (Literacy informational) dan literasi epistemik (literacy epictemic).

Irene dan Gay (2001)

Mengatakan bahwa nilai-nilai literasi yang berkualitas tergambar dari ketika peserta didik berhasil menerapkan apa yang telah mereka pelajari dan dituangkan kedalam tulisan mereka sendiri. Peserta didik secara langsung dalam mengenal dunia pendidikan sudah memahami istilah ini.

National Literacy Forum (2014)

Menyatakan bahwa ada empat  cara yang harus dilakukan dalam membangun literasi yang universal yaitu: meningkatkan kemampuan bahasa sejak dini di rumah dan dalam pendidikan nonformal, lebih  mengefektifkan pembelajaran yang dapat menumbuhkan keterampilan membaca dan menulis di sekolah. Seperti dengan adanya akses untuk membaca dan program yang membuat peserta didik merasa senang melakukan kegiatan literasi, menciptakan kerjasama antara sekolah, lingkungan, keluarga dan lingkungan kerja untuk dapat mendukung budaya literasi.

NAEYC (1998)

Menurutnya, literasi adalah suatu kegiatan yang mampu mendorong peserta didik-peserta didik berkembang sebagai pembaca dan penulis sehingga hal ini sangat membutuhkan interaksi dengan seseorang yang menguasai literasi.

). Menurut PISA 2006 literasi sains didefinisikan sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktifitas manusia. Definisi litersi sains ini memandang literasi sains bersifat multidimensional, bukan hanya pemahaman terhadap pengetahuan sains, melainkan lebih luas dari itu (Firman, 2007).

Kemampuan Literasi saintifik perlu dibekalkan kepada peserta didik untuk membangun pengetahuan sains dan keterampilan sains dalam menghadapi era globalisasi. Domain literasi saintifik terdiri dari domain konteks, domain kompetensi, domain pengetahuan, dan domain sikap. Domain kompetensi memiliki tujuan untuk melihat peningkatan kompetensi literasi saintifik peserta didik dalam pembelajaran. Dengan kompetensi ini peserta didik dapat menggunakan pengetahuan ilmiahnya dalam konteks dan situasi berbeda misalnya untuk menyelesaikan permasalahan dan pengambilan keputusan dengan cara ilmiah di masyarakaAspek literasi sains

Dalam freamewrok PISA 2015, domain literasi saintifik terdiri dari empat domain yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya, yaitu domain konteks (contexts), kompetensi (competencies), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude).

Konteks:

Personal, lokal, nasional dan isu global, baik yang terjadi saat ini maupun sejarah, yang menuntut beberapa pemahaman sains dan teknologi.

Pengetahuan:

Sebuah pemahaman fakta-fakta besar, konsep-konsep, dan penjelasan teori yang membentuk dasar pengetahuan ilmiah. Pengetahuan tersebut meliputi pengetahuan tentang alam dan teknologi (pengetahuan konten), pengetahuan bagaimana ideide dihasilkan (pengetahuan procedural) dan sebuah pemahaman yang mendasari prosedur tersebut dan pembenaran bagi kegunaannya (pengetahuan epistemik)

Kompetensi:

Kemampuan untuk menjelaskan fenomena secara ilmiah, mengevaluasi dan merancang penyelidikan ilmiah, dan menginterpretasikan data dan bukti secara ilmiah.

Sikap:

Satu set sikap terhadap ilmu yang ditunjukkan dengan minat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi; menilai pendekatan ilmiah untuk penyelidikan, dimana tepat, dan persepsi dan kesadaran akan masalah lingkungan.

Aspek literasi sains yang dibahas dalam PISA mulai dari tahun 2000, 2003 dan 2006, yakni:

  1. Konten sains
  2. Proses sains
  3. Konteks Aplikasi sains

 Aspek literasi sains meurut PISA

NoPISA 2000PISA 2003PISA 2006
1Konten: pengetahuan sains  pemahaman konseptual yang dibutuhkan dalam penggunaan proses-proses.  Pengetahuan Sains atau konsep: Fisika KimiaSains Bumi & Ruang angkasa                    Berdasarkan 3 kriteria: Relevan dengan situasi sehari-hariLingkup pengetahuan dan aplikasi: relevan dengan kehidupan masa depanKombinasi pengetahuan dengan konsep-konsep sains terkaitPengetahuan : Pengetahuan sains (basis dasar konsep)Pengetahuan tentang sainsSikap dan tindakan kearah sains dan teknologi
2Konteks: penerapan pengetahuan & keterampilanKonteks: aplikasi pengetahuan sains & poses sains dalam situasi nyata, dan melibatkan gagasan sains.Konteks: pengetahuan&teknologi dalam kehidupan
3Proses: PROSES MENTAL untuk menyoroti pertanyaan atau isu tentang: Mengenali pertanyaan yang dapat diselidiki secara sains. Mengidentifikasikan bukti yg dibutuhkan dalam penyelidikan sains Menarik & menilai kesimpulan Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid dari bukti pendukung (aneka sumber). Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep sains (relevansi pengetahuan untuk memprediksi)Proses Sains TINDAKAN MENTAL untuk: Menggambarkan, menjelaskan dan memprediksi fenomena sains. Memahami penyelidikan sains: mengkomunikasikan dan mengenali pertanyaan yang dapat diinvestigasi secara ilmiah mengetahui apa yang terlibat dalam penyelidikan tersebutMenginterpretasikan bukti sains dan kesimpulan: mengkomunikasikan kesimpulan berdasarkan bukti sains untuk memperoleh pengetahuan/pemahamanProses Sains KOMPETENSI: Mengidentifikasi pertanyaan atau merumuskan pertanyaan yang dapat diselidiki secara ilmiah.Mengidentifikasi dan menerapkan pengetahuan yang relevan, membahas pengetahuan tambahan (jika perlu) Interpretasi dan evaluasi data Mengkomunikasikan gagasan peserta didik dan pandangan yang lain  

Menurut National Science Teachers Association (dalam Poedjiadi, 2005), seseorang yang memiliki literasi sains dan teknologi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Menggunakan konsep-konsep sains, keterampilan proses dan nilai apabila mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Mengetahui bagaimana masyarakat mempengaruhi sains dan teknologi serta bagaimana sains dan teknologi mempengaruhi masyarakat.
  3. Mengetahui bahwa masyarakat mengontrol sains dan teknologi melalui pengelolaan sumber daya alam.
  4. Menyadari keterbatasan dan kegunaan sains dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.
  5. Memenuhi sebagian besar konsep-konsep sains, hipotesis dan teori sains dan mampu menggunakannya.
  6. Menghargai sains dan teknologi sebagai stimulus intelektual yang dimilikinya.
  7. Mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah tergantung pada proses-proses inkuiri dan teori-teori.
  8. Membedakan fakta-fakta ilmiah dan opini pribadi.
  9. Mengakui asal-usul sains dan mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah adalah tentatif
  10. Mengetahui aplikasi teknologi dan pengambilan keputusan menggunakan teknologi.
  11. Memiliki pengetahuan dan pengalaman cukup memberikan penghargaan pada penelitian dan penegembangan teknologi.
  12. Mengetahui sumber-sumber informasi dari sains dan teknologi yang dipercaya dan menggunakan sumber-sumber tersebut dalam pengambilan keputusan.

Konteks aplikasi sains

PISA Nasional 2006 membagi bidang aplikasi sains ke dalam lima kelompok, yakni kesehatan, sumber daya alam, lingkungan, bahaya, dan penemuan baru, seperti dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Bidang-bidang tersebut adalah bidang-bidang yang di dalam literasi sains mempunyai nilai penting bagi individu dan masyarakat dalam peningkatan kualitas hidup secara berkelanjutan, serta dalam pengembangan kebijakan publik (Firman, 2007).

Tabel 2. Konteks Aplikasi Sains dalam PISA 2006

Nama KolomPersonalSosialGlobal
KesehatanPemeliharaan kesehatan NutrisiPengendalian penyakitPenyebaran penyakit infeksi
Sumber daya alamKonsumsi bahan dan energy untuk keperluan pribadiKualitas hidupPasokan airSistem akan terbarukan dan tak terbarukan
LingkunganPerilaku ramah lingkunganSebaran PopulasiDampak lingkunganKeragaman makhluk hidupKelestarian ekologiPengendalian populasi
BahayaKeputusan tentang perumahanPerubahan-perubahan di bumi (erosi, sedimentasi dan cuaca buruk)Perubahan iklim
Penemuan BaruMinat dalam eksplanasi sains terhadap fenomena alamMaterial peralatan, dan proses baruModifikasi generikPenciptaan spesi, asal usul dan struktur alam semesta

Bybee dan BSCS (dalam Shwartz et al., 2006) dan Holbrook (1998) mengemukakan beberapa tingkatan dalam literasi sains yang lebih cocok dinilai dan diterapkan selama pembelajaran di sekolah karena kemudahannya untuk diterapkan pada tujuan instruksional. Beberapa tingkatan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Scientific illiteracy: peserta didik tidak dapat merelasikan atau merespon berbagai pertanyaan sains yang memerlukan alasan yang masuk akal dikarenakan peserta didik tidak mempunyai perbendaharaan kata, konsep, konteks, dan kemampuan kognitif untuk mengidentifikasi pertanyaan secara ilmiah.
  2. Nominal Scientific illiteracy: peserta didik dapat mengenali dan merelasikan konsep yang berhubungan dengan sains, namun masih memungkinkan terjadinya miskonsepsi
  3. Conceptual Scientific illiteracy: peserta didik mengembangkan pengetahuan dari skema konseptual mereka dan merelasikannya pada pengetahuan umum dari sains. Kemampuan prosedur dan pemahaman tentang proses penemuan sains dan teknologi termasuk juga ke dalamnya
  4. Multidimensional Scientific illiteracy: peserta didik memahami sains lebih dari sekedar konsep sains dan prosedur penelitian sains. Dengan kata lain peserta didik mengetahui dimensi lain yang mencukupi filosofi, sejarah, sosial dari sains. Jadi pada tingakatan ini peserta didik mengembangkan pengetahuan mereka dan mengapresiasikan sains ke dalam kehidupan sehari-hari. Pada kenyataannya, tingkatan tertinggi dari literasi sains sangat sulit dicapai. Peserta didik dapat mencapai tingkatan tertinggi dari literasi sains hanya pada topik yang menurut mereka interest (Bybee, dalam Shwartz et al., 2006)

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Style switcher RESET
Body styles
Color settings
Link color
Menu color
User color
Background pattern
Background image